Rabu, 08 Januari 2014

Kisah Hati dan Lidah


Ada seorang wanita yang kaya,hartawan dan banyak ternakan.
Pada suatu hari wanita  itu telah menghadiahkan seekor kambing kepada Luqman Hakim dan kemudian dia berpesan kepada hambanya seraya berkata,
”Apabila kamu sampai kepada Luqman Hakim,setelah kambing itu di sembelih,mintalah bagian yang tidak baik pada kambing itu,kerana aku mahu memakannya”.

Setelah kambing itu disembelih,luqmam hakim pun mengambil beberapa bahagian dari kambing itu yang terdiri dari hati dan lidah,
lalu dibungkusnya, Kemudian diserahkan kembali kepada hamba wanita itu.
Hati dan Lidah itu dibawa pulang.
Terperanjat sungguh wanita itu setelah melihat isi kandungan bungkusan tersebut.
”hati dan lidah ini bagus dan baik,tetapi mengapa Luqman Hakim memberiku hati dan lidah ini”?
Sedangkan yang aku minta bagian yang tidak baik dan tidak bagus”?
“Tidak mengapalah!”sambung wanita itu kembali.Dia pun berlalu.
Hati dan lidah dimasak dan di nikmati dengan penuh selera.Setelah makan dia pun berfikir.
”Kenapa Luqman hakim memberiku hati dan lidah kambing ini?Sedangkan apa yang aku minta adalah benda yang tidak baik darinya”?
Selang tiga hari selepas itu ,wanita  tersebut memanggil hambanya untuk menangkap seekor kambing lagi sambil berkata,”Kamu bawalah kambing ini kepada Luqman Hakim dan kamu beritahu kepadanya,setelah disembelih,aku minta bahagian yang baik-baik dan berikan kepadaku”.
Luqman Hakim seorang yang bijaksana.Setelah kambing yang kedua ini disembelih,diambil sebahagian daripada hati dan lidah kambing itu dan dibungkusnya.Kemudian diberikan kepada hamba wanita itu tadi untuk dibawa pulang.
Di rumah.sekali lagi wanita itu terperanjat.Ternyata Luqman Hakim tetap memberikan hati dan lidah kepadanya.Lalu hati dan lidah itu dimasaknya.Ketika makan,sempat wanita itu berfikir sejenak.
“Apa sebabnya aku minta yang tidak baik diberi hati danlidah,di minta yang baik pun diberi hati dan lidah juga”.wanita itu tidak mengerti apakah yang tersirat dan tersurat di sebalik semua itu..
Akhirnya untuk memuaskan hati,wanita tersebut pergi menemui Luqman Hakim.Dia berharap agar segala persoalannya terjawab.”Wahai Luqman Hakim yang bijaksana,apakah pengajaran di sebalik apa yang kau berikan kepadaku?apakah pengajaran disebalik semua ini wahai Luqman Hakim”?
Luqman Hakim pun berkata.
”Hati itu adalah tempat iman ,keyakinan dan jatuhnya pandangan Allah kepada hamba-Nya.
Sedangkan tempat lain jatuhnya pandangan manusia.utamakanlah tempat jatuhnya pandangan Allah,aku bimbang kalau hati kita ada sifat-sifat mazmumah,takut iman dan hidayah akan terkeluar .Sebab itu saya kirimkan kepada puan,hati.Hati yang perlu dijaga”.
“Dan begitu juga lidah.Lidah lebih tajam dari mata pedang.Dengan lidah orang boleh bermusuhan,bercerai berai,binasa dan memutuskan silaturrahim.Orang boleh berpuasa tetapi lidah nya tidak  di jaga dengan mncaci dan mengata orang lain.Akhirnya tempat dia menjadi ahli neraka”.
Hati dan lidah itu adalah pokok segala kebaikan dan begitu juga sebaliknya. Dari hati dan lidah juga akan terbit segala kejahatan dan keburukan.

“maka,jagalah hati dan lidah itu dengan sebaik mungkin.InsyaAllah,kita akan memperolehi keselamatan di dunia dan di akhirat”.Jelas dan nyata kata-kata Luqman Hakim itu.Wanita itu mengangguk faham.

http://dhilazulrus.blogspot.com/2011/07/kisah-hati-dan-lidah.html

Selasa, 07 Januari 2014

Rasulullah dan Jeruk Limau




Suatu hari Rasulullah SAW didatangi oleh seorang wanita kafir. Ketika itu baginda bersama beberapa orang sahabat. Wanita itu membawa beberapa biji buah limau sebagai hadiah untuk baginda. Cantik sungguh buahnya. Siapa yang melihat pasti terliur. Baginda menerimanya dengan senyuman gembira. Hadiah itu dimakan oleh Rasulullah SAW seulas demi seulas dengan tersenyum.

Biasanya Rasulullah SAW akan makan bersama para sahabat, namun kali ini tidak. Tidak seulas pun limau itu diberikan kepada mereka. Rasulullah SAW terus makan. Setiap kali dengan senyuman, hinggalah habis semua limau itu. Kemudian wanita itu meminta diri untuk pulang, diiringi ucapan terima kasih dari baginda.

Sahabat-sahabat agak heran dengan sikap Rasulullah SAW itu. Lalu mereka bertanya. Dengan tersenyum Rasulullah SAW menjelaskan “Tahukah kamu, sebenarnya buah limau itu terlalu masam semasa saya merasainya kali pertama. Kiranya kalian turut makan bersama, saya bimbang ada di antara kalian yang akan mengenyetkan mata atau memarahi wanita tersebut. Saya bimbang hatinya akan tersinggung. Sebab itu saya habiskan semuanya.”

Begitulah akhlak Rasulullah SAW. Baginda tidak akan memperkecil-kecilkan pemberian seseorang biarpun benda yang tidak baik, dan dari orang bukan Islam pula. Wanita kafir itu pulang dengan hati yang kecewa. Mengapa? Sebenarnya dia bertujuan ingin mempermain-mainkan Rasulullah SAW dan para sahabat baginda dengan hadiah limau masam itu. Malangnya tidak berjaya. Rancangannya di’tewas’kan oleh akhlak mulia Rasulullah SAW.
Subhanallah...
Begitulah indahnya akhlak rasulullah,
Semoga kita senantiasa mampu mengingat dan memaknai cerita ini untuk terus berbenah dan menjadi berbekal,

http://virouz007.wordpress.com/2012/04/11/rasulullah-dan-jeruk-limau/
 

Apa Salahnya Menangis ?






Apa salahnya menangis, jika memang dengan menangis itu manusia menjadi sadar.
Sadar akan kelemahan-kelemahan dirinya, saat tiada lagi yang sanggup menolongnya dari keterpurukan selain Allah Swt.
Kesadaran yang membawa manfaat dunia dan akhirat.
Bukankah kondisi hati manusia tiada pernah stabil? Selalu berbolak balik menuruti keadaan yang dihadapinya.
Ketika seseorang menghadapi kebahagiaan maka hatinya akan gembira dan saat dilanda musibah tidak sedikit orang yang putus asa bahkan berpaling dari kebenaran.

Sebagian orang menganggap menangis itu adalah hal yang hina, ia merupakan tanda lemahnya seseorang. Bangsa Yahudi selalu mengecam cengeng ketika anaknya menangis dan dikatakan tidak akan mampu melawan musuh-musuhnya. Para orang tua di Jepang akan memarahi anaknya jika mereka menangis karena dianggap tidak tegar menghadapi hidup. Menangis adalah hal yang hanya dilakukan oleh mereka yang tidak mempunyai prinsip hidup.

Bagi seorang muslim yang mukmin, menangis merupakan buah kelembutan hati dan pertanda kepekaan jiwanya terhadap berbagai peristiwa yang menimpa dirinya maupun umatnya. Rasulullah SAW meneteskan air matanya ketika ditinggal mati oleh anaknya, Ibrahim.
Abu Bakar Ashshiddiq ra digelari oleh anaknya Aisyah ra sebagai Rojulun Bakiy (Orang yang selalu menangis). Beliau senantiasa menangis, dadanya bergolak manakala sholat dibelakang Rasulullah SAW karena mendengar ayat-ayat Allah.
Abdullah bin Umar suatu ketika melewati sebuah rumah yang di dalamnya ada sesorang sedang membaca Al Qur’an, ketika sampai pada ayat: “Hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam” (QS. Al Muthaffifin: 6). Pada saat itu juga beliau diam berdiri tegak dan merasakan betapa dirinya seakan-akan sedang menghadap Robbnya, kemudian beliau menangis.
 Lihatlah betapa Rasulullah SAW dan para sahabatnya benar-benar memahami dan merasakan getaran-getaran keimanan dalam jiwa mereka. Lembutnya hati mengantarkan mereka kepada derajat hamba Allah yang peka.

Bukankah diantara tujuh golongan manusia yang akan mendapatkan naungan pada hari dimana tiada naungan kecuali naungan Allah adalah orang yang berdoa kepada Robbnya dalam kesendirian kemudian dia meneteskan air mata?
Tentunya begitu sulit meneteskan air mata saat berdo'a sendirian jika hati seseorang tidak lembut. Yang biasa dilakukan manusia dalam kesendiriannya justru maksiat. Bahkan tidak sedikit manusia yang bermaksiat saat sendiri di dalam kamarnya seorang mukmin sejati akan menangis dalam kesendirian dikala berdo'a kepada Tuhannya. Sadar betapa berat tugas hidup yang harus diembannya di dunia ini.

Di zaman ketika manusia lalai dalam gemerlap dunia, seorang mukmin akan senantiasa menjaga diri dan hatinya. Menjaga kelembutan dan kepekaan jiwanya. Dia akan mudah meneteskan air mata demi melihat kehancuran umatnya. Kesedihannya begitu mendalam dan perhatiannya terhadap umat menjadikannya orang yang tanggap terhadap permasalahan umat. Kita tidak akan melihat seorang mukmin bersenang-senang dan bersuka ria ketika tetangganya mengalami kesedihan, ditimpa berbagai ujian, cobaan, dan fitnah. Mukmin yang sesungguhnya akan dengan sigap membantu meringankan segala beban saudaranya. Ketika seorang mukmin tidak mampu menolong dengan tenaga ataupun harta, dia akan berdoa memohon kepada Tuhan semesta alam.

Menangis merupakan sebuah bentuk pengakuan terhadap kebenaran. “Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Qur’an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri) seraya berkata: “Ya Robb kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Qur’an dan kenabian Muhammad)”. (QS. Al Maidah: 83).
Ja’far bin Abdul Mutholib membacakan surat Maryam ayat ke-16 hingga 22 kepada seorang raja Nasrani yang bijak. Demi mendengar ayat-ayat Allah dibacakan, bercucuranlah air mata raja Habsyah itu. Ia mengakui benarnya kisah Maryam dalam ayat tersebut, ia telah mengenal kebenaran itu dan hatinya yang lembut menyebabkan matanya sembab kemudian menangis. Raja yang rindu akan kebenaran benar-benar merasakannya.

Orang yang keras hatinya, akan sulit menangis saat dibacakan ayat-ayat Allah. Bahkan ketika datang teguran dari Allah sekalipun ia justru akan tertawa atau malah berpaling dari kebenaran. Sehebat apapun bentuk penghormatan seorang tokoh munafik Abdullah bin Ubay bin Salul kepada Rasulullah SAW, sedikit pun tidak berpengaruh pada hatinya. Ia tidak peduli ketika Allah SWT mengecam keadaan mereka di akhirat nanti, “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan neraka yang paling bawah. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapatkan seorang penolongpun bagi mereka”. (QS. An Nisa’: 145)

Barangkali di antara kita yang belum pernah menangis, maka menangislah disaat membaca Al Qur’an, menangislah ketika berdo'a di sepertiga malam terakhir, menangislah karena melihat kondisi umat yang terpuruk, atau tangisilah dirimu karena tidak bisa menangis ketika mendengar ayat-ayat Allah. Semoga hal demikian dapat melembutkan hati dan menjadi penyejuk serta penyubur iman dalam dada. Ingatlah hari ketika manusia banyak menangis dan sedikit tertawa karena dosa-dosa yang diperbuatnya selama di dunia. “Maka mereka sedikit tertawa dan banyak menangis, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan”. (QS At Taubah: 82).

Jadi apa salahnya menangis?
http://cerita-tauladan.blogspot.com/2011/03/apa-salahnya-menangis.html

Pemenang Kehidupan




Suatu hari, dua orang sahabat menghampiri sebuah lapak untuk membeli buku dan majalah. Penjualnya ternyata melayani dengan buruk. Mukanya pun cemberut. Orang pertama jelas jengkel menerima layanan seperti itu. Yang mengherankan, orang kedua tetap enjoy, bahkan bersikap sopan kepada penjual itu. Lantas orang pertama itu bertanya kepada sahabatnya, “Hei. Kenapa kamu bersikap sopan kepada penjual yang menyebalkan itu?”

Sahabatnya menjawab, “Lho, kenapa aku harus mengizinkan dia menentukan caraku dalam bertindak? Kitalah sang penentu atas kehidupan kita, bukan orang lain.”

“Tapi dia melayani kita dengan buruk sekali,” bantah orang pertama. Ia masih merasa jengkel.

“Ya, itu masalah dia. Dia mau bad mood, tidak sopan, melayani dengan buruk, dan lainnya, toh itu enggak ada kaitannya dengan kita. Kalau kita sampai terpengaruh, berarti kita membiarkan dia mengatur dan mempengaruhi hidup kita. Padahal kitalah yang bertanggung jawab atas diri sendiri.”

Sahabat, Tindakan kita kerap dipengaruhi oleh tindakan orang lain kepada kita. Kalau mereka melakukan hal yang buruk, kita akan membalasnya dengan hal yang lebih buruk lagi. Kalau mereka tidak sopan, kita akan lebih tidak sopan lagi. Kalau orang lain pelit terhadap kita, kita yang semula pemurah tiba-tiba jadi sedemikian pelit kalau harus berurusan dengan orang itu.

Coba renungkan. Mengapa tindakan kita harus dipengaruhi oleh orang lain? Mengapa untuk berbuat baik saja, kita harus menunggu diperlakukan dengan baik oleh orang lain dulu? Jaga suasana hati. Jangan biarkan sikap buruk orang lain kepada kita menentukan cara kita bertindak! Pilih untuk tetap berbuat baik, sekalipun menerima hal yang tidak baik.

“Pemenang kehidupan” adalah orang yang tetap sejuk di tempat yang panas, yang tetap manis di tempat yang sangat pahit, yang tetap merasa kecil meskipun telah menjadi besar, serta tetap tenang di tengah badai yang paling hebat.
http://iphincow.com/2013/09/14/pemenang-kehidupan/